Max Havelaar

Ya, aku mau dibaca ! Aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan tanda-tanda jaman; oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang; oleh anggota-anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergejolak dalam kerajaan besar di seberang lautan, yang adalah sebagian dari kerajaan Belanda

Pada suatu ketika di sebuah losmen di Brussel Belgia dengan membawa berbagai dokumen diantaranya sebuah tulisan naskah sandiwara hingga salinan surat suratnya ketika menjabat di hindia belanda, seorang pria kelahiran Belanda menulis sebuah novel yang diakui sebagai karya sastra yang sangat penting bagi negaranya bahkan dunia dimana diselesaikannya dalam waktu satu bulan. Eduard Douwes Dekker atau lebih dikenal dengan nama samaran Multatuli merupakan sosok yang bisa dibilang bahwa tidak semua orang belanda itu penjajah, dimana ia menuliskan gugatan tajam terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang menimpa penduduk pribumi di hindia belanda yang diberi judul Max Havelaar.

Novel yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa belanda pada tahun 1860 ini memiliki judul terjemahan lengkapnya “Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda”. Dan pertama kalinya edisi bahasa Indonesia diterbitkan pada tahun 1972 yang diterjemahkan oleh HB Jassin salah satu tokoh yang namanya kini diabadikan Pusat Dokumentasi Sastra di Jakarta (PDS H.B Jassin). Bisa dibilang novel ini sebagai sebuah literatur penting bagi perjalanan bangsa Indonesia di masa silam bahkan beberapa dasawarsa kemudian diangkat menjadi film layar lebar tepatnya pada tahun 1976. Film tersebut sempat dilarang beredar pada masa orde baru berlangsung, namun tidak perlu berkecil hati karena di buku cetakan ketiganya seperti milik saya ini terdapat beberapa foto yang diambil dari film yang dibuat oleh antara pemerintah Belanda – Indonesia pada masa itu.

 Max Havelaar sendiri ditulis dalam bentuk roman, dimana buku ini seolah olah ditulis oleh tiga orang, padahal sebenarnya bisa dibilang ini hanyalah sebuah memoar dari seorang Multatuli selama di Hindia Belanda namun kelihaiannya dalam menampilkan sosok makelar kopi Amsterdam Batavus Droogstoppel, pemuda Jerman bernama Stern dan Havelaar secara bergantian yang kemudian merujuk pada sebuah akhir cerita yang dramatis pada jaman itu patut diacungi jempol. Selain ketiga sosok tadi ada kisah Saijah dan Adinda yang seolah menyeruak di tengah ketegangan cerita, sebuah romantisme pribumi pada masa penjajahan yang digambarkan secara indah tanpa harus merusak alur.

Di awal cerita akan disuguhi kehidupan seorang Droogstoppel (wakil kepentingan Belanda) yang menulis buku tentang kopi dengan mempergunakan sebuah bungkusan berisikan dokumen yang ada tulisannya entah sengaja atau tidak diberikan oleh Havelaar, dimana sosok materialis yang konservatif ini kemudian meminta bantuan kepada pemuda Jerman Ludwig Stern untuk membantunya menuliskan secara lengkap menjadi sebuah cerita yang diinginkannya dan pada akhirnya Havelaar atau bisa dikatakan Multatuli mengambil peranan mereka berdua pada bagian akhir untuk menuliskan sendiri klimaks cerita tersebut. Sebuah gambaran singkat akan didapatkan pembaca saat menilai sosok Max Havelaar melalui novel ini saat di awal cerita, seperti saat pemuda Jerman melihatnya sebagai sosok idealis sedangkan makelar kopi justru menganggapnya orang yang gagal yang hanya memakai syal kesana kemari dan menyebutnya Sjaalman. Dan saya sendiri justru menganggap Max Havelaar dari seluruh hidupnya penuh dengan penderitaan yang seolah olah tahu pada akhirnya dia tersingkirkan oleh sebuah sistem.

Praktek korupsi hingga pemerasan para pribumi atas nama penjajahan untuk dengan sistem Tanam Paksa dimana penduduk harus menyediakan tanah perkebunan kepada Gubernur Belanda dimana nantinya akan ditanam hasil bumi yang penting bagi bangsa eropa terutama kopi, teh hingga tebu. Namun upah tanam itu tidak pernah sampai ke tangan inlander atau bisa disebut penanam kopi, fakta tersebut disuguhkan oleh Multatuli melalui Max Havelaar cukup bagus. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Multatuli atau Douwes Dekker pernah menjadi asisten residen Lebak yang letaknya di sebelah selatan karesidenan Banten, jadi inti cerita sebenarnya banyak mengandung unsur otobiografis meski di penulis juga melakukan beberapa kebebasan salah satu di kisah Saijaah dan Adinda.

Menurut pandangan saya bila disesuaikan dengan jaman sekarang bisa dibilang bahwa sosok Havelaar mungkin identik dengan Whistleblower, bagaimana tidak begitu kerasnya dia memprotes sebuah sistem yang sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita yang didapatnya sebelum menjabat sebagai assisten residen. Dimana pada saat itu berita-berita baik dikirimkan Gubernur Jendral dari Hindia Belanda kepada parlemen yang tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah tersebut diantaranya tentang sebuah kemakmuran penduduk jajahannya. Hal ini tentunya sangat mengusik batinnya saat menjadi asisten residen Lebak apalagi dengan melihat langsung penyiksaan hingga perampasan hak pribumi. Melalui sebuah perjuangannya yang lebih dari hanya memberikan keadilan bagi masyarakat jajahannya, serta berharap ada sebuah kesataraan hingga pada seutu waktu waktu kurang dari sebulan ia lantas menulis surat kepada atasannya di Hindia Belanda dan meminta agar semua orang yang terlibat praktek korupsi hingga pemerasan itu ditahan untuk kemudian diselidiki. Namun asisten residen yang baru itu telah masuk ke dalam sebuah sistem yang telah bertahan puluhan tahun dan itu memberikan keuntungan bagi Hindia Belanda meskipun sangat merugikan bagi penduduk pribumi hingga pada akhirnya bisa ditebak siapa yang bertahan dan siapa yang tersingkir oleh sebuah sistem.

Seorang Pramudya Ananta Toer pun pernah merujuk buku ini dalam The New York Times pada tahun 1999 sebagai “Buku yang membunuh kolonialisme“, Nah untuk membuktikannya silahkan anda baca buku yang menurut saya layak menyandang predikat Most Wanted.

*Whistleblower; Pengungkap aib (wikipedia)

4 Responses to “Max Havelaar”

  1. cow writes:

    abot ketok e wocoane

  2. sibair writes:

    Awesome,keren. Pengen baca. Sayang tidak dipinjamkan haha

  3. SlameTux writes:

    Wocoane Serrem… Gak ngangkat nek aku…

  4. Dhahana Adi writes:

    Aku duwe film e Max Havelaar mas…kan judule sempat diganti Saijah dan Adinda

Leave a Reply