Diantara pembatas buku, secangkir kopi dan sebuah catatan perjalanan

Jelajah Makassar

Manusia mulai berkumpul menanti keindahan ciptaan sang khaliq, pedagang pisang epe bersiap mengais rejeki malam. Dan Jalanan Penghibur mulai sesak bercampur asap kendaraan dengan ragam kamera mulai berlomba menyapa saat mentari mulai terbenam – Senja di losari

Makassar menjadi tujuan Perjalanan kali ini, selama tiga hari menikmati pesona wisata yang ditawarkan oleh ibukota Sulawesi Selatan ini. Mulai dari Taman Nasional Bantimurung hingga menikmati matahari terbenam dari pantai losari yang kata teman saya adalah salah satu pemandangan sunset terbaik di Indonesia.

Hari pertama saat tiba di Makassar saya langsung menuju kota Maros untuk melepas rindu sejenak ke sanak saudara sebelum melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung esoknya, serta memperpendek jarak ke lokasi yang terkenal akan pemandangan pegunungan batu itu. Berkunjung ke sanak saudara saat berpergian adalah ibarat pepatah satu dayung dua pulau terlampaui, sembari bersilaturahmi juga bisa bisa merasakan suguhan kuliner khas daerah yang terkadang kita kesusahan bila mencarinya sendiri di daerah tersebut. Lidah pun ikut memanjakan diri sejenak dengan suguhan Songkolo yang dibuat dari ketan hitam lengkap dengan parutan kelapa berasa manis serta taburan sambal ikan teri, kemudian Barongko yang terbuat dari bahan dasar pisang serta Jalangkote yang mirip dengan kue pastel kalau di
Surabaya.

Esok pagi menuju Taman Nasional Bantimurung dengan memakan waktu kurang lebih 45 menit dari kota Maros tempat tinggal saudara yang saya kunjungi sebelumnya. Pagi hari selalu menjadi pilihan saya bila berkunjung ke tempat wisata yang potensi ramai pengunjung dengan harapan tempatnya masih sepi, sehingga lebih leluasa menikmati pemandangan pegunungan batu terbesar kedua di dunia ini dan air terjun yang menjadi daya tarik utama dari tempat ini, disini juga terdapat tempat penangkaran kupu kupu beserta dengan museum.

Untuk masuk ke lokasinya per orang akan dikenakan biaya sebesar 15ribu rupiah sedangkan untuk turis asing 50ribu rupiah. Dan apabila tidak membawa kamera saat masuk ke lokasi, jangan khawatir karena disini banyak ditemukan mat kodak (tukang foto) yang menawarkan jasa foto langsung jadi hanya dengan 20ribu/foto. Mat kodak ini nantinya akan
menemani selama perjalanan di dalam area wisata untuk memfoto kita sembari menjadi guide yang akan menjelaskan seluk beluk tentang Taman Nasional Bantimurung. Dan Bantimurung sendiri memiliki arti berarti Banting Kemurungan yang bisa diartikan jauhkan kemurungan bila berkunjung ke tempat ini seperti yang dijelaskan oleh guide saat menemani perjalanan.

Setelah puas menikmati keindahan Taman Nasional Bantimurung perjalanan berlanjut menuju kota Makassar dan langsung menuju Trans Studio Theme Park yang letaknya jadi satu dengan Trans Studio Mall di daerah Tanjung Bunga. Untuk masuk ke tempat ini saat itu dikenakan biaya sebesar 125ribu sedangkan untuk menikmati wahana khusus dikenakan biaya tambahan sebesar 50ribu, tiket Trans Studio ini bentuknya seperti kartu ATM yang memiliki banyak manfaat diantaranya bisa digunakan sebagai merchant card di tempat yang telah ditunjuk dengan mengisi ulang terlebih dahulu (semacam kartu debet). Dari berbagai wahana ada satu yang cukup berkesan menurut saya yakni wahana “Dunia Lain” dimana sesuai namanya terinspirasi dari salah satu acara televisi, jadi apabila berkunjung ke Trans Studio luangkan waktu sejenak untuk menikmati sensasi yang bikin bulu kuduk berdiri.

Hari itu bermalam di Makassar sambil menikmati kuliner malam seperti pisang epe sampai coto makassar, karena esok ingin menikmati keindahan pulau kecil yang letaknya tidak jauh dari kota Makassar, yakni Pulau Kayangan dan Samalona.

Pagi menjelang siang berangkat menuju pelabuhan kecil di dekat benteng, tawar menawar sebuah perahu sempat tidak berjalan lancara karena ketidakcocokan harga. Dan pada akhirnya kami setuju dengan harga sewa sebesar 300ribu dimana untuk sebuah perahu motor tadi bisa diisi sampai 10 orang. Untuk menuju Pulau kayangan hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit, dan jangan kaget akan disuguhi pemandangan laut yang penuh dengan sampah serta deretan kapal kapal berukuran raksasa yang lagi buang sauh. Yang menarik salah satu teman dari Makassar sempat berujar “kalau snorkling disini yang dilihat bungkus mie instan sampai kaleng/botol bekas minuman mas” dari dalam hati cuma bilang sampai
separah ini kondisi laut di pesisir makassar ini.

Merapat di Pulau Kayangan sejenak untuk menjemput teman dari Jakarta dan menurut penilaian saya pulau ini tidak terlalu istimewa, justru rasa penasaran timbul ingin segera mengetahui Pulau Samalona. Namun setelah 30 menit perjalanan rasa penasaran itu perlahan mulai terobati yang bercampur dengan rasa kecewa, ternyata Pulau Samalona tidak seindah yang saya bayangkan selama ini. Hamparan pasir putih di pulau ini pun seolah percuma karena banyaknya sampah berserakan, belum lagi banyak terumbu karang rusak yang semakin nampak karena kejernihan air laut di sekitar
pantainya.

Pulau yang memiliki luas daratan 0,067 Km2 ini dihuni oleh kurang lebih 82 jiwa berdasarkan data yang terpampang di sebuah papan di tempat bersandarnya perahu. Jadi bisa dibayangkan pulau ini cukup padat penduduk serta bangunan yang pastinya juga sampah, dimana seolah olah berlomba mengisi petak kosong di pulau ini. Akhirnya saya pun tidak ingin
berlama lama di pulau ini disamping panas mulai menyengat serta rasa kecewa yang cukup mendalam. Namun saya masih berkeyakinan bahwa Pulau Samalona itu sangatlah indah bila semua pihak yang terkait ikut menjaganya termasuk pengunjung.

Seolah tidak ingin berlama lama dengan rasa kecewa, chandra teman saya mengajak menikmati es pisang ijo khas Makassar sembari menanti senja di Pantau Losari. Cuaca cerah pun cukup mendukung untuk bisa menikmati momen terbenamnya matahari ini dengan mendokumentasikannya sembari duduk di tempat yang telah tersedia di sepanjang anjungan pantai. Dan setelah tiga kali berkunjung ke Makassar pada akhirnya perjalanan kali ini bisa menikmati terbenamnya matahari terbenam yang cantik dari Pantai Losari.

Risalah Steppenwolf

Inilah saat seorang Herman Hesse ingin mengajak bermain pembacanya dan berimajinasi kemudian menikmatinya dalam cerita yang bisa dibilang novel biografisnya

Ini adalah buku kedua karya Herman Hesse yang saya baca setelah Siddharta, dimana bisa dibilang ini adalah salah satu karya terbaiknya selain Narcissus and Goldmund, Journey to the East dan The Glass Bead Game. Steppenwolf sendiri diterbitkan pada tahun 1927 dimana 5 tahun sebelumnya penulis telah menerbitkan Siddharta, salah satu karya yang terbaik yang pernah saya baca. Dan pada akhirnya dapat kita nikmati dalam edisi bahasa Indonesia pada tahun 2011 yang diterjemahkan oleh Penerbit Pustaka Baca.

Jangan berharap Herman Hesse akan bercerita seperti Siddharta meskipun kedua judul buku ini memiliki kesamaan yakni bercerita tentang perjalanan hidup seorang tokoh fiksi. Di buku ini akan disuguhi pergulatan karakter Harry Haller – Steppenwolf Serigala Padang Rumput, si penyedih yang penyendiri, selalu terlibat dalam pertempuran antara naluri purba sang serigala melawan si manusia rasional yang hidup di tengah tengah masyarakat borjuis. Di buku ini seorang Herman Hesse berusaha menuliskan secara puitis tentang petualangan sang jiwa yang mencari kebebasan, bisa dibilang dia berhasil menggabungkan kecerdasan dan kedahsyatan Nietzsche dengan kelembutan serta kasih sayang Sidharta Gautama untuk menciptakan Steppenwolf.

Ketika membuka bukunya anda akan disambut dengan Catatan Harry Haller yang berjudul “Hanya untuk Orang Gila” yang seolah ingin memberikan kalimat pembuka yang tidak lazim bagi pembaca yang pada akhirnya menimbulkan rasa penasaran untuk mengetahui cerita selanjutnya. Dan jangan terkejut bila selama membacanya akan disuguhi sebuah alur cerita yang tidak lazim, semacam merangkai puzzle dari berbagai penggalan cerita dari dua karakter dari satu tokoh yang saling berlawanan antara Harry Haller dan Steppenwolf yang masih bisa kita nikmati secara seksama. Anehnya di catatan si penulis menceritakan bahwa dirinya tidak mempedulikan akhir ceritanya seperti apa, justru ingin memberikan si pembaca kebebasan untuk menentukan akhir ceritanya sendiri bisa happy ending ataupun bad ending bahkan seolah olah tidak berakhir itu adalah hak pembaca sendiri.

Saat membacanya ada sebuah penggalan kalimat Goethe yang cukup menggelitik tentang sebuah lelucon, dia berujar bahwa keseriusan adalah kecelakaan dalam waktu dan lelucon adalah sebuah momen yang cukup panjang dalam sebuah keabadian bisa dibilang semacam jangan terlalu serius dalam menjalani kehidupan dan buatlah lelucon untuk hidupmu.
Selain Goethe ada juga Mozart yang diceritakan disini secara jenaka oleh penulis, namun yang menarik adalah sebuah bab yang bercerita tentang sebuah kotak ajaib yang biasa kita temukan pada cerita Alice in Wonderland dimana membuat kita seolah olah dalam sebuah kotak bercanda dengan jalan pikiran Steppenwolf. Dan tidak diragukan lagi bahwa disini Steppenwolf berusaha mengisahkan sebuah duka lara dan kebutuhan, tetapi juga tentang sesuatu yang diyakini manusia.

Jadi apabila anda menginginkan sebuah bacaan akhir pekan yang panjang dan membutuhkan sebuah cerita yang agak berat dengan alur yang tidak biasa, mungkin Steppenwolf dari Herman Hesse ini bisa menjadi sebuah pilihan menemani akhir pekan.

Jalan jalan ala Sidhartha

Tapi tidakkah dengan demikian yang akan tumbuh hanyalah sikap pasrah? Kesabaran yang hanya akan berakhir dengan ketidaktahuan? – Siddhartha

Apa jadinya bila seorang brahmana bercinta dengan seorang pelacur, berjudi hingga memiliki anak tanpa ikatan perkawinan. Hermann Hesse peraih Nobel Sastra tahun 1946 menceritakannya secara gamblang di salah satu karyanya yang berjudul Siddhartha. Di buku setebal 224 halaman akan disuguhi sebuah pencarian spritual yang hidup pada masa Gotama Sang Buddha. Disuguhkan dengan bahasa yang puitis dan sarat akan makna kehidupan mendalam maka tidak salah bahwa buku ini merupakan karya sastra klasik abad 20 yang wajib dikoleksi.

Sang Putra Brahmana menjadi judul bab awal ketika membaca buku ini, dimana akan diceritakan kegundahan Siddharta untuk mencari makna kehidupan yang tidak ditemukan di keluarga ataupun para sahabatnya. Hingga pada akhirnya Siddhartha muda pun memutuskan untuk melakukan pengembaraan mengambil sumpah brahmana yang ditemani sahabatnya Govinda. Perjalanan dari pertapa satu ke pertapa yang lain, dari guru yang satu ke yang lainnya mulai dijalaninya hingga suatu waktu tersiar kabar tentang kemasyuran Gotama sang Buddha. Berita tentang sang suci ini pun membuat Govinda tertarik untuk mengikuti ajarannya namun keinginannnya ini ditolak oleh sahabatnya yang tetap bersikeras
untuk meneruskan perjalanannya dan justru mempersilahkan Govinda untuk mengikuti ajaran Sang Buddha. Dan perpisahan penuh haru itupun tidak terelakkan, dan pada saat itu pula Siddhartha sempat bertemu sejenak dengan sang Buddha yang saling mengungkapkan kekagumannya tentang ajarannya masing masing. Rayuan Govinda ternyata tidak membuahkan hasil yang pada akhirnya Siddharta tetap melanjutkan pengembaraannya sendiri.

Suatu waktu Siddhartha bertemu dengan juru sampan yang mengantarkannya menyebrang sungai untuk melanjutkan perjalanan ke kota. Tanpa disadari bahwa perbincangannya dengan juru sampan ini pada akhirnya menjadi titik balik dari perjalanan hidupnya yang diceritakan pada bagian akhir buku ini. Saat di kota pencarianya seolah menemukan
titik jenuh hingga merindukan rasa duniawi, dan pertemuannya dengan Kamala seorang pelacur yang cantik, kaya dan memiliki istana yang indah. Siddhartha berkeinginan untuk menemukan apa artinya cinta hingga sebuah nafsu, dan Kamala pun memberikan beberapa syarat diantaranya ingin memiliki anak darinya tanpa ikatan pernikahan. Mulailah bekerja untuk memuhi kebutuhan duniawinya, dan atas rekomendasi Kamala akhirnya dapat bekerja dengan Kamaswami. Dengan kemampuan brahmananya seperti memiliki sabar sabar, bijaksana maupun hal lainnya membuatnya mudah untuk mengumpulkan pundi pundi uangnya. Kehidupan duniawi pun semakin membuatnya lupa akan masa lalunya, rasa cintanya terhadap Kamala yang semakin menjadi jadi hingga akhirnya mengenal meja judi.
Kehidupan duniawi tidak membawanya semakin bahagia hingga merindukan masa menjadi brahmana dan pada suatu ketika bertemu dengan sahabatnya Govinda dalam keadaan mabuk yang hampir tidak mengenalinya. Siddhartha pun melanjutkan pengembaraanya ke hutan dan harus melewati sungai layaknya ketika sebelumnya berangkat menuju kota. Dan ini adalah
pertemuan kedua dengan juru sampan yang terkejut karena dulunya saat menyebrang ke kota dengan pakaian yang lusuh dengan tubuh yang kumal dan saat ini di hadapannya Siddhartha menggunakan pakaian yang cukup mahal dengan hidup yang terawat. Pertemuan dengan Juru Sampan Vasudeva inilah akhirnya merubah hidupnya sampai akhir hayatnya.

Sebenarnya di akhir bab buku ini masih juga banyak konflik yang diciptakan Hermann Hesse diantaranya hadirnya anak Siddhartha dari Kamala hingga perbincangan Govinda dengan Siddharta yang tidak kalah menarik. Siddharta menjadi bacaan yang menarik mulai dari awal hingga akhir, setiap bab akan disuguhi karakter maupun konflik yang ditemui Siddhartha selama perjalanan mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan hidup akan bertemu dengan orang orang yang memberikan pengaruh di kehidupan berikutnya.

Belitung adalah salah satu destinasi impian selain Ubud dan Pulau Bintan. Pesona pantai Tanjung Tinggi yang dijadikan lokasi pembuatan film Laskar Pelangi yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di layar bisokop akhirnya bisa terwujud

Akses penerbangan menuju pulau ini dari ibukota Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit yang mendarat di Bandara H.S Hanandjoeddin Belitung. Pemandangan perkebunan kelapa sawit sepanjang jalan seolah menyambut kedatangan para wisatawan yang berpergian menuju kota Tanjung pandan dari bandara. Buat yang ingin mengunjungi pulau Belitung dengan persiapan yang minim ataupun terbatasnya pengetahuan tentang wilayah ini tidak perlu takut, karena di saat keluar dari bandara akan banyak yang menawarkan jasa sewa mobil, dimana mereka bersedia mengantar ke lokasi wisata yang ada di Belitung hanya dengan merogoh kocek sebesar 500ribu per hari. Biaya tadi sudah termasuk supir yang merangkap guide dan BBM sekali jalan, mereka juga akan membantu mencarikan tempat penginapan ataupun kebutuhan lainnya selama di Belitung.

Kota Tanjung Pandan sendiri lumayan ramai dengan masyarakat beragam etnis mulai dari melayu, tionghoa sampai jawa dengan bahasa sehari harinya menggunakan bahasa melayu. Ada yang unik di kota ini yakni tidak adanya angkutan umum sebagai sarana transportasi massal, jadi apabila ingin berpergian disarankan untuk menyewa sepeda motor ataupun mobil yang disesuaikan budget. Harga sewa untuk sebuah sepeda motor dikenakan 50ribu dan mobil sejenis MPV sebesar 300ribu per harinya, satu hal yang perlu diingat bila menggunakan kendaraan bermotor adalah mengisi tangki bensin sebanyak mungkin terlebih dahulu daripada sesal kemudian karena pom bensin di belitung bisa dihitung dengan jari.

Ketika Sore hari setelah check in di hotel kami pun menuju kawasan Pantai tanjung tinggi yang memekan waktu kurang lebih 30 menit. Saat sampai di lokasi sebuah papan bertuliskan “Bahwa pantai ini adalah lokasi syuting film Laskar pelangi” seolah ingin menunjukkan bahwa film tersebut membawa pengaruh besar bagi dunia pariwisata di Belitung, dan pernyataan ini diamini oleh pelaku wisata di kawasan pantai. Namun dibalik kesuksesan film

laskar pelangi seolah berbanding terbalik dengan kondisi pantainya karena banyak timbunan sampah diantara sela sela batu yang sehingga merusak keeksotisan sebuah pantai dan ada beberapa batu penuh dengan coretan kejahilan manusia. Dan ini semacam pe er bagi dunia pariwisata yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung agar Belitung selalu menjadi destinasi impian bagi semua traveler.

Setelah puas menikmati bebatuan granit raksasa dengan berbagai macam bentuk yang unik tersusun indah perjalanan pun berlanjut menuju Pantai Tanjung Kelayang, yang secara pribadi lebih bisa menikmati suasananya dibandingkan pantai sebelumnya. Lokasi dari kedua pantai ini tidaklah terlalu jauh, untuk masuk ke pantai hanya dikenakan biaya parkir kendaraan bermotor. Pak Tata adalah guide yang menemani selama di Belitung banyak cerita mearik di kala menikmati sore hari di pantai, diantaranya cerita tentang keengganan masyarakat menggunakan nama Belitung seperti yang tercatat secara adminstratif negara dan lebih suka menggunakan nama Belitong serta banyak juga cerita lainnya yang meungkin terlalu panjang untuk ditulis disini. Selain cerita tadi Pak Tata juga bercerita tentang keindahan sunset di pantai bukit berahu yang berjarak 15 menit dari pantai Tanjung Kelayang sehingga tanpa berpikir lama langsung menuju lokasi yang diceritakan beliau. Namun sunset yang diceritakan tadi tidak didapat karena tertutup awan, sekedar informasi untuk masuk ke lokasi ini dikenakan biaya parkir 1000 untuk kendaraan bermotor dan per kepala ditarik 2ribu. Seiring terbenamnya matahari sore menjadi pertanda untuk segera kembali ke kota karena esoknya akan melakukan perjalanan yang tidak kalah seru yakni mengunjungi Pulau Kepayang, Pulau Langkuas, Pulau Burung dan Pulau Pasir.

Hari kedua kami berangkat pagi dari Hotel Ocean yang terletak di pinggiran kota tanjung pandan tepatnya di Jalan Sijuk Paal 1. Tempatnya lumayan bersih dan nyaman juga harga bersahabat, untuk per malam 250rb – 300ribu per kamar dan mendapatkan fasilitas mulai tivi, AC, double bed serta kamar mandi yang siap dengan air panas, belum lagi paginya akan mendapatkan pilihan breakfast berupa nasi goreng ataupun roti bakar yang ditemani teh hangat ataupun kopi.

Pulau Kepayang adalah tujuan pertama yang dikunjungi, disini ada semacam cottages yang disewakan dengan konsep back to nature seharga 350ribu per malam. Di pulau ini juga terdapat penangkaran penyu dimana kata Pak Rusdy juru mudi kapal menjelaskan pada malam tertentu wisatawan yang menginap di cottages diajak melepaskan anak penyu ke laut *Woah sebuah pengalaman yang menarik bukan.

Setelah puas bermain air di pulau Kepayang perjalanan kemudian menuju pulau Langkuas dengan perahu yang lumayan besar yakni berkapasitas kurang lebih 20 orang, perahu ini sewa per harinya bisa sampe 500ribu tergantung proses tawar menawar dengan syahbandar atau pemilik kapal. Ada juga perahu yang lebih kecil dengan kapasitas 10 orang yang per harinya dengan harga yang lebih murah pastinya yakni hanya 300ribu. Sebuah Mercusuar menjulang tinggi menjadi petunjuk pulau Langkuas, dimana yang hanya dibutuhkan waktu 30 menit dari pulau Kepayang dengan cuaca yang bersahabat. Pulau ini memiliki banyak peninggalan Belanda dan konon di sekitar perairan Pulau Langkuas ada beberapa kapal belanda yang karam, bagi penggemar diving yang menyukai spot dive berupa kapal karam bisa mencobanya di kawasan ini. Masuk ke mercusuar setinggi kurang lebih 50 m adalah wajib hukumnya karena bisa menikmati pemandangan seluruh pulau dengan membayar 5ribu per orang sebagai biaya masuk mercusuar. Ada beberapa aturan masuk mercusuar yakni tidak diperkenankan membawa makanan minuman serta tidak boleh ditemani oleh guide, yang terakhir masih menjadi pertanyaan sampai sekarang. Saat sampai di puncak mercuar dan menikmati pemandangan sekeliling pulau sangat disarankan jangan terlalu lama, karena lumayan bikin jantung deg deg ser apalagi saat melihat ke bawah.

Tujuan berikutnya adalah Pulau Burung, dinamakan burung bukan karena banyak burung yang singgah di pulaunya namun lebih karena di pesisir pantainya ada sebuah batu granit berukuran raksasa yang berbentuk seperti kepala burung. Setelah itu berlanjut ke Pulau pasir sebagai tujuan terakhir pada perjalanan ini, namun dikarenakan air laut saat itu pasang maka hamparan pasir yang menyerupai sebuah gundukan pulau kecil tadi tidak terlihat. Perjalanan pulang ditemani matahari senja membuat enggan kembali ke peradaban dan bertemu dengan rutinitas esoknya, sehingga waktu 3 hari 2 malam pun berasa cepat berlalu di Belitung. Oleh karena itu suatu saat nanti ingin kembali kesini dan mampir ke daerah Manggar yang ada di Belitung Utara.

Sabtu malam di Kota Tanjung Pandan meluangkan waktu mampir kawasan Pantai Tanjung Pendam sambil menikmati makan malam Sop Iga di warung Bang Pasha yang terkenal. Selesai makan malam Pak Tata pun mengajak merasakan durian Belitung yang saat itu lagi musimnya, dengan 50ribu sudah mendapatkan durian berukuran kecil sebanyak 7 buah dan rasanya pun legit.Esok paginya tidak lupa merasakan kopi Belitung di warung Koh Djie sebelum menuju bandara, kopinya disajikan tanpa ampas dan rasanyanya cukup kuat, untuk satu gelas kecil kopi hitam diberi harga 4ribu sedangkan kopi susu akan 6ribu.
Terakhir Mie Belitung “Atep” menjadi penutup jalan jalan ke Belitung, dan rasanya maknyus seperti kata Pak Bondan. Satu lagi kuliner yang dijadikan menu wajib bila berkunjung ke pulau ini adalah Gangan Kepala Ikan Rumah Makan Otentik “Berage” di daerah Sijuk yang maknyus juga.

Akhir cerita perjalanan kali ini ingin mengambil sebuah kutipan dari buku Laskar Pelanginya Andrea Hirata yakni “cita cita adalah doa” dan doa itu terkabul ketika sudah menjejakkan kaki Belitung sebagai salah satu destinasi impian yang ingin dikunjungi tahun ini.

Ubud dan Bintan wait me..

Kure’ Sumanga’ Toraja

Kure’ Sumanga’ Toraja sebuah kata yang mampu menggambarkan rasa kekaguman tentang keindahannya, ‘Kure Sumanga’ berasal dari bahasa Toraja yang artinya Terima Kasih. Sebuah ungkapan yang pantas disematkan terhadap salah satu tempat wisata yang meraih urutan 3 The Best Service Cities versi Indonesia Tourism Award 2011, Terima Kasih Toraja

Tana Toraja terletak di provinsi Sulawesi selatan merupakan wilayah dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan yang memiliki dua kota utama yakni Makale sebagai ibukotanya dan Rantepao sebagai ibukota dari Kabupaten Toraja Utara. Banyak obyek wisata menarik diantaranya Ke’te Kesu, Londa, Tilanga, Batu Tumonga, Lemo dan Sangala namun waktu 4 hari 3 malam belumlah cukup untuk menjelajah tempat yang terbilang cukup menarik tadi. Selain obyek wisata yang disebut tadi, upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat setempat juga layak untuk dimasukkan ke dalam daftar diantaranya Rambu Solo.

Waktu yang tepat berkunjung ke Tana Toraja adalah akhir tahun karena Pemerintah setempat mengadakan Lovely December yang dijadikan agenda wisata tahunan, yang puncak acaranya sendiri diadakan pada saat menjelang natal hingga Tahun Baru usai dimana acara ini dimeriahkan Festival Budaya, Kuliner sampai Upacara Adat.

Dengan mendapatkan tiket seharga 700ribu yang dipesan 3 bulan sebelumnya membuat perjalanan tidak seberapa mahal, karena seperti yang diketahui tiket untuk segala tujuan masih dalam wilayah Indonesia masih terbilang mahal. Untuk Surabaya – Makassar ditempuh kurang lebih 1 jam 15 menit dengan perjalanan udara, bandara Sultan Hasanuddin
Makassar adalah sebuah bandara dengan arsitektur yang cukup menarik dan teringat ketika setahun yang lalu mendarat disini sempat terkagum kagum akan langit langit bandara yang berwarna warni.

“Sangatlah bijak untuk mempersiapkan tiket pesawat jauh hari/bulan ataupun mengikuti program promo sebuah maskapai penerbangan untuk mendapatkan tiket murah”

Di bandara dijemput oleh chandra seorang teman dari Surabaya yang sudah menghabiskan waktunya hampir 2 tahun mengais rejeki di bumi celebes, dia yang menemani dan membantu perjalanan selama di Tana Toraja. Yang juga memberikan berita buruk bahwa transportasi menuju Toraja sangatlah sulit jelang natal dan tahun baru terutama bis kelas eksekutif yang tiketnya telah habis 2 minggu sebelumnya dan itu menjadikan sebuah pelajaran di kemudian hari untuk lebih memperhatikan transportasi lokal.

Namun sebuah bis ekonomi menjadi berita baik menjelang 2 hari sebelum keberangkatan ke Toraja didapat dengan 100ribu yang harus dipesan terlebih dahulu sebelumnya agar mendapatkan tempat duduk, sekali lagi jangan pernah berharap pelayanan lebih dari bis ekonomi. Bis akhirnya berangkat dari Terminal Daya Makassar pukul 20.30 WITA menuju Toraja.

Dengan 10 jam perjalanan akhirnya tiba di Makale ibukota Tana Toraja langsung disuguhi pemandangan pegunungan, hamparan sawah dan rumah adat Tongkonang membuat rasa lelah itu hilang. Setelah beristirahat sejenak di Makale tanpa membuang waktu banyak maka berlanjut menuju Sereale untuk menyaksikan Upacara Adat Rambu Solo, sebuah pesta penguburan dari Alm. Philipus Tappi (Ne’sarrin) bersama teman baru Anti dan Santos yang pada akhirnya merasakan keramahan khas Toraja bersama mereka. Acaranya cukup meriah selain perayan itu sendiri dimana sepanjang mata memandang akan melihat kerbau dan babi, kata Santos ini adalah hewan yang dibawa oleh para undangan untuk diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan dimana nantinya apabila undangan tadi mengadakan pesta serupa maka harus mengembalikan alias hutang.
Upacara yang sebenarnya telah usai karena terlalu sore namun tidak mengurungkan niat untuk berjalan jalan dan melihat sekumpulan Kerbau bule atau oleh masyarakat setempat disebut Todung Bonga yang memiliki harga hingga ratusan juta satu ekornya. Tidak kalah menarik ikut menyaksikan Adu kerbau namun dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menentukan pemenangnya, namanya juga kerbau kan.

Mengawali hari kedua di Tana Toraja menuju Bori yang memakan waktu 45 menit dari Makale. Yang menjadi perhatian disini adalah ruas jalan menuju lokasi cukup kecil dan hanya bisa dilewati 1 mobil, jadi butuh keberuntungan agar tidak banyak mobil dari arah berlawanan. Masuk ke obyek wisata Bori dikenakan biaya 5000 per orang, kumpulan batu menhir yang dikelilingi bangunan tongkonang menjadi semacam pintu masuk sebelum menyaksikan Kuburan batu yang berukuran besar. Di obyek wisara ini juga terdapat kuburan bayi yang diletakkan di dalam batang pohon, namun beberapa wisatawan menganggap untuk kuburan bayi lebih bagus di Sangala daripada Bori.

Perjalanan berlanjut menuju Kete’ Kesu yang konon menjadi tempat favorit wisatawan ketika berkunjung ke Tana Toraja. Infrastruktur di lokasi wisata ini cukup baik dari mulai dari akses jalan menuju lokasi, lahan parkir yang mencukupi serta tersedianya fasilitas pendukung lainnya seperti tempat makan, toko souvenir sampai toilet. Tongkonang yang berderet dan saling berhadapan tidak luput jadi obyek foto para wisatawan yang berkunjung, namun pemandangan yang sesungguhnya adalah ketika menaiki anak tangga dibalik deretan tongkonang karena akan disuguhi banyak peti mati yang menempel pada dinding tebing yang lumayan tinggi dari permukaan tanah. Selain itu banyak juga peti mati tua dengan kondisi rusak/lapuk berserakan sepanjang jalan karena terjatuh dari dinding tebing lengkap dengan isinya.
Setelah sampai di anak tangga paling atas jalanan akan menuju sebuah gua di dalamnya berisikan peti mati dimana akan dipandu oleh anak anak setempat yang berjajar di mulut gua bila inging menyaksikannya dengan memberikan biaya secara sukarela. Jalan gua yang cukup curam dan sempit jadi harus membungkuk serta sedikit merayap untuk masuk lebih dalam belum lagi penerangan hanya dari senter yang dibawa oleh pemandu, jadi apabila anda ragu untuk melanjutkannya maka mengurungkan niat pun tidak ada salahnya.

“Tidak ada salahnya menpersiapkan uang pecahan lima ribuan hingga sepuluh ribuan untuk diberikan guide dadakan atas jasanya ketika di lokasi wisata”

Lomda adalah tujuan selanjutnya, dari Kete’ Kesu hanya memakan waktu 30 menit. Disini sempat dipamerin jenazah yang meninggal tahun 2010 oleh guidenya langsung dari peti mati yang ada di dalam gua dengan kondisi yang masih utuh dan terawat. Di dalam gua ini juga menemukan sepasang tengkorak kepala yang menurut guidenya adalah milik lelaki dan perempuan yang digambarkan seperti cerita Romeo dan Juliet yang sehidup dan semati namun kisah cintanya tidak direstui oleh keluarganya. Secara garis besar Lomda tidak jauh berbeda dengan Kete’ Kesu namun bukan berarti
harus dilewatkan, justru Lomda sangat direkomendasi untuk dikunjungi karena disini masih dilakukan penguburan adat Toraja.

Saat menentukan destinasi terakhir sempat kebingungan karena hari yang sudah menjelang sore dengan 2 pilihan destinasi yakni antara Lemo atau Tilanga. Dan pilihan jatuh ke Tilanga dikarenakan rasa penasaran melihat belut raksasa seperti yang diceritakan Anti dan Ismail teman baru yang ikut pada hari kedua perjalanan, jalur menuju Tilanga adalah paling parah karena jalan yang sempit dan rusak saat mendekati obyek wisatanya. Masuk ke Tilanga hanya dikenakan biaya 5ribu rupiah, jangan kaget saat di loket akan banyak anak kecil yang bergerombol menawarkan telur yang digunakan umpan dari belut tersebut agar keluar dari tempat persembunyiannya. Sebuah tontonan menarik ketika anak kecil tersebut dengan lihai memanfaatkan umpan telur yang ujungnya telah dipecah sebelumnya yang kemudian dimasukkan ke air dan mengeluarkan sedikit demi sedikit kuning telurnya di depan celah bebatuan tempat bersembuninya belut raksasa tersebut. Alhasil belut seukuran kaki orang dewasa pun mulai menampakkan diri secara perlahan, kesan pertama saat melihatnya adalah rasa jijik dan kagum bercampur jadi satu. Bahkan salah seorang anak berusaha dengan berani dan tanpa perasaan jijik berusaha untuk menggendong belut tersebut. Dan Tilanga tadi menjadi persinggahan terakhir hari itu di Tana Toraja karena esok harus kembali ke Makassar, waktu 2 hari di Toraja belumlah cukup dan masih berharap suatu saat nanti bisa kembali.

Perjalanan pulang dari makale menuju Makassar kali ini menggunakan angkutan umum, karena tiket bis menuju makassar sudah habis seperti yang dijelaskan sebelumnya. angkutan umum ini menggunakan mobil isuzu panther, mitsubishi kuda dan sejenisnya yang diisi 4 orang di kursi belakang, 4 orang di kursi tengah dan 3 orang di depan termasuk supir !! dan itu masih bisa bertambah bila ada anak kecil yang duduk dalam pangkuan.

Makale – Enrekang ditempuh kurang lebih 1 jam dengan mengeluarkan biaya sebesar 15ribu per orang, Setelah sampai di Enrekang kemudian pindah angkutan umum untuk lanjut perjalanan menuju Makassar dengan biaya sebesar 50 ribu per orang sekali jalan. Perjalanan dari Enrekang menuju Makassar akan inilah merupakan perjalanan yang tidak terlupakan yakni naik angkutan umum dengan 13 penumpang di dalamnya (+ 1 anak kecil) juga disuguhi pemandangan yang indah dari deretan pegunungan dan juga Gunung Nona serta Sungai Sadang, buat yang punya mabuk darat maka bersiap siaplah karena jalanan berkelok kelok naik turun selama 3 jam.

Tiba di makassar menjelang malam bukan berarti langsung beristirahat usai perjalanan yang makan waktu 8 jam, justru keinginan menikmati kuliner makassar sangat besar disamping lapar karena esoknya sudah harus kembali ke peradaban (kota Surabaya). Yang menjadi santapan pembuka adalah Es Teler Yes di daerah pantai Losari kemudian menikmati Heineken di tempat gaul makassar bernama Warung Popsa dengan suasana pantai, dan akhirnya menutup malam terakhir di Makassar dengan mencicipi Coto Makassar Paraikatte Tamalanrea sebelum pulang.
Kure’ Sumanga’ Toraja

Thx a lot to chandra juga keramahan Toraja dari Anti, Santos, Ismail dan mbak yang bikinin sarapan nasi goreng *lupa namanya :)