Salah Asuhan Di Balai Pustaka

Balai Pustaka merupakan salah satu penerbitan yang menjadi saksi perjalanan bangsa Indonesia sejak tahun 1908. Mewarnai dokumentasi bangsa melalui buku dalam berbagai jenis seperti sastra, pendidikan hingga bacaan umum. Tujuan awal berdirinya  sendiri cukup mulia yakni mengembangkan bahasa bahasa daerah utama di Hindia Belanda seperti bahasa Jawa, Sunda. Namun seiring perjalanan waktu pada masa penjajahan justru menjadi media propaganda dengan membatasi ruang gerak penulis pribumi seperti Marah Roesli, Abdul Moeis maupun Merari Siregar yang disebut juga dengan Angkatan Balai Pustaka. Tulisan mereka pun harus melalui proses editorial Balai Pustaka terutama yang mendiskreditkan penjajah bahkan tak jarang mereka memaksa para penulis untuk memasukkan karakter baru versi penjajah demi keseimbangan sebuah cerita. Termasuk disengaja atau tidak sosok Corrie pada buku Salah Asuhan yang murni dari penulis atau kehendak Belanda melalui Balai Pustaka. Sosok Corrie diceritakan sebagai seorang gadis Belanda yang ceria, cerdas dan beradab yang benar benar melukiskan tipe gadis barat. Tidak hanya sampai disitu karena seorang Hanafi yang menjadi tokoh utama pada buku yang sama menjadi semacam karakter olok olok Belanda, digambarkan karena cinta dia rela untuk menanggalkan kepribumiannya untuk menjadi Belanda tulen dengan berbagai cara.

Salah AsuhanSalah Asuhan bisa dibilang menjadi salah satu mahakarya dari Angkatan Balai Pustaka, sang penulis Abdoel Moeis menerbitkan pertama kalinya pada tahun 1928. Roman dengan mengusung konsep “East meet West” yang masih relevan untuk dibaca hingga kini. Sebuah kisah cinta yang berbeda, sebuah perbedaan yang melihat cinta adalah bentuk keterpaksaan. Entah apa yang ada dalam benak Abdoel Moeis saat itu seolah tema ini akan abadi hingga kini tentunya dengan konteks yang berbeda karena sebuah masa. Bila pada masa penjajahan label antara pribumi dan penjajah seolah menjadi penghalang yang siap dihancurkan oleh kekuatan cinta, sedang masa kini tidak jarang keyakinan menjadi sebuah penghalang untuk ditaklukkan.

Percintaan Hanafi dan Corrie adalah cinta terlarang antara seorang pribumi Minang dan penjajah (Belanda) yang sulit diterima masyarakat. Suatu misal bila Hanafi membawa Corrie kedalam dunianya yang berpegang teguh pada adat istiadat minang tidak jarang akan mendapat cemohan dibandingkan dukungan dari keluarga besarnya. Begitu juga sebaliknya bila Corrie mengajak Hanafi sekedar menikmati undangan secangkir teh oleh sejawatnya sesama bangsa Belanda dimana gunjingan itu terasa lebih keras hingga terdengar oleh empunya cinta. Bagaimanapun mereka saling memahami sebuah percintaan itu tidak hanya hidup diantara mereka.

Sebuah kisah cinta tidak akan pernah menarik bila tidak ada bumbu kehidupan, demikian sosok Rapiah disuguhkan oleh penulis adalah sosok Wanita setia yang harus rela diinjak injak harga dirinya oleh sang suami yang melakukan sebuah kesalahan fatal dalam kehidupan rumah tangga. Entah disengaja atau tidak sosok Rapiah disini digambarkan wanita yang lugu dan konservatif (yang kebetulan juga pribumi) dimana baginya bercerai adalah sebuah ketakutan besar karena merupakan perbuatan dosa yang tidak akan diampuni oleh Tuhan. Jadi sampai kapanpun juga si Rapiah akan menanti sang suami pulang dalam pelukannya meskipun talak sudah diturunkan. Ibaratnya ia rela mati di tangan suaminya daripada harus bercerai, sebuah hal yang sulit ditemukan saat ini.

Sosok Ibu memberikan peran besar dalam pembentukan karakter seorang anak, Abdoel Moeis paham dengan memberikanpenguatan  karakter tokoh utama. Dimana sang ibu menjadi orang tua satu satunya yang membesarkan Hanafi dengan memberikan yang terbaik meski harus bekerja keras pontang panting, dengan harapan si anak bisa hidup lebih baik daripada ibunya yang tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kemudian sekolah terbaik pun dipilih untuk memberikan sebuah ruang pergaulan yang luas dengan harapan untuk lebih membuka masa depannya yang cerah. Perlu diketahui saat itu sekolah terbaik dikuasai oleh Belanda dan tentunya membutuhkan biaya yang cukup mahal. Seorang ibu pun rela meski harus serba kekurangan dalam hidupnya demi kebahagiaan sang anak. Karena pada waktunya itu juga sebuah kebahagiaan orang tua yang membuat Hanafi sangat mencintai ibunya melebihi apapun. Pada masa itu tolok ukur sebuah kebanggaan orang tua bisa dinilai saat beribu pujian untuk anak datang dari keluarga terdekat hinga masyarakat dimana mereka tinggal. Namun kebanggaan atau kebahagiaan itu juga tidak abadi, si penulis juga menggambarkan sebuah kehidupan (entah dikondisikan atau tidak) dimana sebuah adat istiadat Minang itu cukup ribet, dan tidak simple dimata seorang Hanafi seorang pribumi lulusan sekolah Belanda. Ini merupakan salah satu konflik yang menarik ditawarkan penulis saat menikmati Salah Asuhan, sebuah konflik antara sebuah adat istiadat dengan modernisasi atau keluarga dengan sebuah cinta kepada Corrie.

Jadi saat membaca Salah Asuhan kita juga melihat sebuah sejarah sastra Indonesia, entah sejarah yang dibelokkan atau semacam dokumentasi angkatan balai pustaka. Justru saya melihat banyak hal penggambaran seorang pribumi yang diskreditkan oleh sebuah masa daripada sebuah karya sastra, yang konon buku ini sudah direvisi habis oleh penjajah dengan meminjam tangan penerbit yakni Balai Pustaka.

Mengejar Golden Sunrise

Setelah awal tahun 2013 menyusuri sejumlah pantai daerah Gunung Kidul yang terletak di selatan kota Yogyakarta, dan beberapa waktu yang lalu saya kembali ke tempat yang terkenal dengan sebutan Kota Gudeg ini untuk memulai perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 4 – 5 jam dari kota Yogyakarta dengan transportasi umum seperti bis namun bila menggunakan mobil pribadi tentunya bisa mempersingkat perjalanan atau rent car yang banyak ditemukan di kota Yogyakarta, salah satunya @jalanjalanID yang akan membantu menyediakan mobil hingga penginapan bila ingin berpergian menuju tempat wisata sekitar Yogyakarta seperti pantai atau gua yang banyak ditemukan di daerah Gunung Kidul hingga Dataran Tinggi Dieng.

Terminal Giwangan Yogyakarta menjadi start untuk perjalanan kali ini dengan garis finish di kawasan wisata Dieng. Bila menuju kota Magelang dengan menggunakan bis akan memakan waktu kurang lebih satu jam dengan tarif 8 ribu rupiah. Ada sebuah kenangan terlintas saat bus melewati daerah Salam yakni  dipercaya untuk mengantarkan bantuan kepada korban letusan Gunung Merapi yang dibantu oleh teman teman blogger dari Surabaya. Daerah ini saat itu bisa dikatakan ikut merasakan dampak paling parah dari letusan yang terjadi di tahun 2010 lalu dan semoga kejadian tersebut tidak terulang kembali kedepannya.

Setelah sampai di terminal kota Magelang perjalanan berlanjut dengan menggunakan bis mini yang memasang tarif 15 ribu menuju kota Wonosobo. Selama perjalanan kali ini GPS saya adalah kondektur hingga tukang ojeg terminal karena memang perjalanan kali ini bisa dibilang spontan mengalir layaknya aliran air. Dan tak jarang perbincangan dengan penumpang yang menemani selama perjalan justru memberikan banyak informasi tambahan mengenai lokasi yang dituju dimana informasi tersebut kadang tidak ada di internet atau buku panduan wisata.

Bila cuaca cerah selama perjalanan menuju kota Wonosobo akan disuguhi sebuah pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing belum lagi hamparan hijau bukit yang berderet di kanan kiri jalan. Perjalanannya sendiri memakan waktu 2 jam dan yang perlu diketahui adalah jalanannya naik turun hingga tikungan tajam khas dataran tinggi terutama setelah melewati kota Temanggung. Tentunya bila menggunakan mobil pribadi disarankan untuk ekstra hati hati terutama bila cuaca hujan.

Saat tiba di Terminal Mendolo Wonosobo tidak ada bus yang langsung menuju kawasan wisara Dieng, namun harus berlanjut ke daerah Kauman terlebih dahulu. Jadi jangan kaget bila ada seorang kondektur bus yang menawarkan tujuan dieng karena nantinya anda akan diturunkan di Kauman, kemudian disambung dengan bis serupa namun dengan tujuan kawasan wisata yang terletak di ketinggian 2030 Mdpl. Saat menuju Kauman saya semacam diajak berkeliling untuk memperkenalkan kota Wonosobo dengan membayar 2 ribu rupiah.

IMG_0316

Pemandangan menuju Dieng dari Wonosobo ini cuku membuat takjub dan tak hentinya dibuat terkagum kagum dibandingkan pemandangan sebelumnya dari Magelang menuju Wonosobo. Dengan memakan waktu kurang lebih 1 jam ini seolah berasa tak ingin usai perjalanan saya kali ini bahkan bisa dikatakan suguhan pemandangan selama perjalanan ini lebih menarik dibandingkan dengan tempat wisata yang dituju. Cukup siapkan ongkos sebesar 10 ribu untuk bis agar sampai pertigaan kawasan wisata Dieng.

DSC_0213

Saat tiba di Dieng banyak pilihan tempat menginap berupa homestay dari mulai harga 80 ribu, 150 ribu maupun lebih mahal tergantung dari fasilitas yang ditawarkan oleh penginapan, dan bila bukan musim liburan konon harga tersebut masih bisa ditawar. Di kawasan wisata ini banyak pilihan menghabiskan waktu mulai dari wisata sejarah berupa candi hingga telaga warna atau hanya berdiam diri di kamar saking dinginnya, namun yang menjadi tujuan saya sebenarnya kemari adalah menikmati Golden Sunrise dari atas bukit yang terletak di desa tertinggi di pulau Jawa. Bagi pemilik morning sickness alias sulit bangun pagi ini menjadi sebuah tantangan berat belum lagi suhu Dieng saat jam 4 pagi yang membuatnya menjadi tantangan double combo. Sebuah motor lengkap dengan tukang ojeg akan bersiap mengantarkan ke bukit Sekunir pukul 4 pagi, sekedar informasi bahwa untuk bisa menikmati golden sunrise diharuskan memesan ojeg terlebih dahulu yang juga menjadi guide secara tidak langsung saat menuju lokasi. Untuk lebih mudahnya bisa menghubungi Pak Romdon (0853 27253221), dengan hanya mempersiapkan biaya sebesar 50 ribu yang juga sudah termasuk biaya retribusi menuju lokasi penampakan Golden Sunrise. Dari lokasi menginap saya di Dieng Plateau Homestay hanya membutuhkan 15 menit mengendarai kendaraan bermotor, setelah sampai perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju puncak bukit yang memakan waktu kurang lebih 20 menit. Disarankan untuk membawa peralatan seperti senter hingga air mineral selama perjalanan menuju puncak bukit. Saat di puncak bukit anda jangan berkecil hati bila tidak bisa menikmati Golden Sunrise yang konon satu satunya di Indoesia akibat tertutup awan karena sesungguhnya pemandangan sekitar dari bukit Sekunir juga tidak kalah menakjubkan untuk diabadikan.

Dari Candi Ratu Boko ke Gunung Kidul

Jogjaaaaa…. mengutip dari salah satu iklan yang sempat booming di layar kaca sempat terucap dengan penuh semangat tanpa rasa malu saat melintas di perempatan tugu kota jogja yang legendaris itu pada Sabtu (29/12) dini hari. Entah berapa kali berkunjung ke kota yang dikenal dengan sebutan kota gudeg dan sebuah hitungan itu takkan berpengaruh pada kecintaan akan kota ini. Sebuah kecintaan yang ditanamkan sejak kecil secara tidak sengaja oleh kedua orang tua saya, cerita ini saya dapatkan ketika ibu saya dulu pernah bercerita bahwa jogja merupakan kota pertama kali yang dikunjungi saat masih dalam gendongan beliau. Bahkan menurut bila liburan sekolah saat menginjak TK atau sekolah dasar tidak jarang diajak berlibur kemari, karena di kota ini juga bermukim keluarga besar Eyang. Entah karena hal itu atau bukan pada akhirnya bisa dibilang Jogja itu seperti kota tercinta setelah Surabaya.

Ini adalah kali kedua saya merayakan tahun baru di Jogja yang sebelumnya pergantian tahun 2009 dan seolah ingin berujar bahwa sebagian penduduk Jakarta sudah pindah ke Jogja. Bagaimana tidak beragam kendaraan dengan berbagai model  kerap menemukan plat B di jalanan protokol diantara kemacetan, belum lagi dialek khas ibukota mudah ditemukan di jalanan legendaris Malioboro. Dan sekejap berharap keriuhan ini hanya cukup ada di sepanjang jalan ini tidak lebih, meski disadari juga bahwa kota ini merupakan salah satu kota tujuan wisata favorit di pulau Jawa untuk berlibur atau menikmati pergantian tahun.

Menikmati sebuah perjalanan bagi saya adalah menjauhi keriuhan apalagi hingga membuat macet jalan. Oleh karena itu perjalanan kali ini menuju daerah Prambanan lebih tepatnya di Candi Ratu Boko yang ditempuh kurang lebih 45 menit dari pusat kota lokasinya berdekatan dengan kawasan candi prambanan. Sore itu hujan deras mengguyur daerah tersebut, padahal hanya beberapa langkah kaki sudah memasuki kawasan candi. Dan seperti yang diketahui wilayah candi adalah tanah lapang yang luas sehingga jangan berharap ada tempat berteduh. Pilihan terdekat saat itu ada di pos tiket masuk candi jadi sambil berlari saya pun berteduh di tempat itu dan sempat ngobrol banyak dengan petugas yang lupa menanyakan namanya tapi justru memberikan banyak pengetahuan tentang candi ratu boko. Diantara obrolan tersebut mengenai sejarah ditemukan kawasan candi ini oleh warga negara berkebangsaan Belanda pada akhir abad 18 hingga dulunya sempat juga dikelola oleh swadaya masyarakat setempat sebelum pada akhirnya dikelola oleh Pemerintah. Hal lain yang membuat saya terkejut adalah mengenai nama Candi Ratu Boko, yang ternyata Ratu disini adalah Raja dan Boko berarti Bangau entah siapa yang dimaksud dari Raja Bangau tersebut masih menjadi pertanyaan hingga kini seperti yang dijelaskan oleh bapak petugas tiket masuk.

Di Kawasan candi ini juga jadi pilihan untuk melakukan foto pra wedding yg konon dibandrol seharga 500rb dan disarankan untuk melakukannya pada hari biasa untuk mendapatkan view yang bersih dari pengunjung, pilihan yang bagus mulai pagi hari saat masih berkabut hingga siang. Untuk jasa guide kurang lebih 75rb – 100rb per rombongan bila ingin mengetahui sejarah candi yang luasnya hampir 250.000m2. Pembicaraan kami tak jarang juga berhenti karena sang bapak harus memberikan payung kepada para pengunjung yang nekad masuk ke kawasan candi dalam kondisi hujan deras, di satu sisi saya berpikir bagaimana bisa menikmati keindahan sebuah relief atau candi saat hujan deras apalagi saat ingin mendokumentasikannya. Setelah sepi pengunjung yang ingin masuk ke candi baru si bapak bisa melanjutkan ceritanya seperti halnya sekarang sudah tersedia shuttle bus yang diberangkatkan dari candi prambanan menuju Candi Ratu Boko dengan mengeluarkan uang sebesar 45 ribu rupiah yang sudah termasuk tiket masuk kedua wisata tersebut, dan biaya ini lebih murah daripada mengunjungi kedua candi ini satu persatu. Karena tiket masuk ke Candi Ratu Boko sebesar 25rb sedangkan untuk memasuki Candi Prambanan dikenakan tiket sebesar 30rb.

Tak terasa pembicaraan berteman hujan tadi sudah memakan waktu hampir 2 jam dan bapak tadi sempat beberapa kali mempersilahkan untuk pindah ke kafe untuk berteduh lebih nyaman sambil memesan teh dan cemilan sembari menikmati pemandangan. Dan karena saya juga merasa haus pada akhirnya beranjak pos tersebut menuju kafe dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas obrolan yang menyenangkan dan luar biasa. Ketika memasuki kafe ini sudah membuat saya terkagum kagum karena disuguhi pemandangan gunung merapi yang terlihat samar karena hujan namun masih terlihat bentuk kemegahannya seolah tanpa cela, belum lagi candi prambanan terlihat cantik dari kejauhan yang bisa dilihat dari meja saya sambil menikmati hangatnya teh poci dan pisang goreng. Saat di ruangan ini akan disuguhi beberapa foto karya Darwis Triadi tentang keindahan candi Ratu Boko dari berbagai sisi yang seolah menjadi dekorasi ruangan ini.

Sebuah kekecewaan karena hampir 4 jam menunggu hujan reda namun juga dibalut sebuah optimisme,  seperti yang kita tahu usai hujan deras terkadang nampak sebuah pelangi atau bisa jadi saat sore bisa memberikan merahnya senja yang eksotis. Dan keberuntungan itu datang juga yakni menikmati sunset terbaik dari berbagai tempat yang pernah saya kunjungi, dengan menikmati cahayanya yang memerah memasuki ruang ruang diantara candi seolah membuat ingin melambatkan waktu sebisa mungkin untuk menikmatinya lebih lama sambil terdiam hingga terbenamnya matahari.

Esok paginya saya menuju selatan jogja dengan menggunakan sepeda motor, lebih tepatnya ke daerah gunung kidul untuk menyusuri beberapa pantai. Sepeda Motor menjadi moda transportasi yang dipilih karena dari beberapa informasi mengatakan bahwa ada beberapa pantai tidak bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat serta kondisi jalanan yang tidak terlalu bagus.

Tujuan pertama adalah Pantai Sadeng yang terletak di paling timur yang menghabiskan waktu 3 jam dari kota Jogja dengan jalanan yang berliku penuh tikungan tajam hingga naik turun layaknya jalanan di kawasan pegunungan. Pantai Sadeng letaknya paling jauh dari  Wonosari dimana kota ini semacam pintu masuk dari deretan pantai pantai eksotik yang berada di Gunung Kidul. Memilih pantai yang terjauh mungkin bisa dikatakan sebuah pilihan yang bijak dengan harapan saat pulang tidak berada di jalanan kawasan Gunung Kidul ini. Pantai yang lebih dekat dengan Wonosari adalah pantai Baron yang nantinya diharapkan bisa menutup perjalanan selama di Gunung Kidul.

Di pantai Sadeng atau lebih tepatnya TPI Sadeng dikenakan biaya masuk sebesar 3rb, tidak ada yang istimewa kecuali kehidupan nelayan dan aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan juga nampak sepi. Saat berada disini sempat mengalamai keterbingungan menentukan letak pantainya karena bibir pantai justru layak disebut dermaga beton sebagai sandar kapal. Namun nampak kejauhan sebenarnya ada deretan batu karang tersusun rapi yang, dan banyak digunakan untuk lokasi memancing.

Karena tidak mendapatkan hal yang menarik dan masih banyaknya pantai lain untuk segera dikunjungi maka perjalanan pun berlanjut kurang lebih  30 menit waktu yang dibutuhkan dari Pantai Sadeng menuju pantai Wediombo dengan membayar tiket masuk sebesar 3rb, pantainya tidak terlalu istimewa namun banyak ditemukan pohon rindang untuk bersembunyi dari panasnya matahari untuk beristirahat menikmati ombak. Setelah menghabiskan sarapan versi mini maka perjalanan berlanjut menuju ke Pantai Siung.Sebuah  informasi tidak kalah penting yakni selama perjalanan tidak terlihat SPBU namun banyak kios bensin eceran sepanjang jalan baik dalam bentuk botol hingga jerigen.

Pantai Siung memiliki pemandangan tebing menjorok di sisi kanan dan kiri kemudian mengapit pasir pantai yang bersih, seolah mengingatkan akan sebuah pantai di Bali yang dikenal dengan nama dreamland. Tidak jauh berbeda dengan pantai sebelumnya untuk masuk dikenakan biaya sebesar 3rb yang memakan waktu kurang lebih 20 menit dari Pantai Wediombo. Saat disini saya mencoba naik ke sisi tebing bagian timur untuk melihat pemandangan pantai dari ketinggian kurang lebih 50 meter, namun tidak disarankan karena faktor keamanan. Tempatnya tidak memiliki pengaman sama sekali dan di atas tebing tersebut angin cukup kencang dengan sisi kiri kanan jalur jalan berupa blank langsung karang laut.

Ketika menuju pantai Siung perhatian sempat terusik ada sebuah tanda penunjuk arah yang terbuat dari triplek bekas dengan tulisan Pantai Jogan di sebelah kanan jalan. Informasi dari bapak tukang parkir menyebutkan bahwa tempat tersebut adalah pantai karang bukan pantai wisata layaknya Siung. Saat pulang pun langsung menuju lokasi pantai yang jalanan masuknya berupa jalan tanah namun diberi lapisan semen untuk jalur roda belum lagi jalurnya cukup dilalui satu mobil. Saat menuju pantai yang bisa dikategorikan “hidden beach” terbesit rasa kagum  karena  lokasi yang cukup tersembunyi  serta   masih   dikelola   secara  swadaya  oleh  warga  jadi  tidak  ada  biaya retribusi. Rasa takjub pun timbul karena melihat sebuh pemandangan dengan air terjun yang langsung menuju ke laut dengan tumbuhan palem di sekitarnya yang masih alami. Tempatnya terbilang sepi dan boleh dibilang lebih cocok untuk dijadikan sebuah spot pemuas hobby fotografi, jadi setelah puas memanjakan mata kamera maka Pantai selanjutnya adalah Pok Tunggal.

Pantai yang bisa dibilang duplikat Pantai Kuta di Bali karena pemandangan deretan payung pantai yang warna warni belum lagi garis pasir pantai yang cukup luas seolah menambah kesan bahwa saya berada di pantai yang termasyur di pulai Bali. Menuju pantai ini juga jalanannya seperti di pantai Jogan namun bukan berarti kendaraan roda empat tidak bisa kemari. Tempat yang secara tidak sengaja juga karena tidak ada di catatan saya ataupun peta ini ditemukan di jalanan menuju Pantai  Indaryati dari Pantai Siung. Penunjuk arahnya juga dari triplek bekas dengan dicat ala kadarnya dan tidak menemukan pos retribusi disini.
Setelah dari Pok Tunggal, deretan pantai mulai Indaryati bisa dinikmati hanya dengan membayar biaya restribusi sebesar 5rb sekali jalan hingga pantai Baron. Dan senja seolah menjadi penutup perjalanan panjang susur pantai Gunung Kidul yang sempat menjadi mimpi beberapa bulan sebelumnya. Menurut saya Gunung Kidul menyimpan banyak potensi wisata dengan beragam karakter pantai, bila berkunjung disarankan jangan hanya menengok satu pantai namun beberapa pantai sekaligus dengan manajemen waktu yang baik. Sebagai pendapat pribadi di akhir tulisan ini adalah biarkanlah pantai pantai di Gunung Kidul tetap seperti apa adanya karena ketakutan dan peran Pemerintah justru dibutuhkan mengedukasi warga maupun pengunjung untuk menjaga kelestarian lingkungan pantai hingga ekosistem laut daripada membangun infrastruktur pendukung yang pada akhirnya rusak karena minimnya edukasi tadi.

Yakuza Moon

Sebuah memoar seorang putri Yakuza

Kehidupan itu ibarat sebuah ombak yang tenang kemudian menghayutkan kita sampai tujuan namun terkadang juga ombak itu akan menghancurkan sebuah bahtera yang membuatnya tidak akan mencapai tujuan. Shoko Tondo itu ibarat sebuah bahtera yang semula di perairan tenang lengkap dengan cerahnya langit maupun pemandangan hamparan lautan yang indah dan dalam sebuah perjalanannya menemukan ombak cukup besar hingga menghancurkan bahteranya hingga berkeping namun pada akhirnya kepingan itu hayut dalam lautan dan akhirnya sampai di tujuan yang diinginkan.

Perjalan hidup Shoko Tendo seorang wanita kelahiran Jepang yang kini menjadi penulis lepas disuguhkan di buku pertamanya yang berjudul Yakuza Moon. Buku ini bertutur dengan apa adanya tanpa ada yang harus ditutupi, bercerita tentang kerasnya sebuah kehidupan anak salah satu seorang pimpinan Yakuza yang sukses kemudian berubah drastis dari yang disegani menjadi dicaci maki. Buku ini mungkin masuk kriteria PG (Parental Guide) karena banyaknya kisah yang tabu bagi masyarakat. Dari mulai diceritakan  saat melayani nafsu para anggota yakuza demi narkoba untuk mengobati kecanduannya hingga kejadian yang menimpa keluarganya ketika setiap hari anggota yakuza menagih hutang kepada ayahnya dan tak jarang juga merusak perabotan yang membuat seisi rumah ketakutan termasuk dirinya saat itu masih berusia 12 tahun. Kejadian tersebut membuatnya trauma yang membuat dirinya enggan kembali ke rumah usai sekolah. Disaat dirinya tidak di rumah Tondo muda ini mulai mengenal banyak teman serta dunia kecil distrik terlarang di Kota Tokoyo, dari perkenalan inilah yang menjeratnya ke penjara. Kehidupan yang serba tidak pasti menjadi sebuah pertaruhan dan membuatnya harus drop out dari sekolah di usia muda, kontan orang tuanya pun marah besar mengetahui hal ini. Ayahnya seorang pemimpin yakuza hanya bisa mengawasi kehidupan anaknya diluar dengan bantuan anak buahnya agar Tondo baik baik saja. Dirinya pernah menjadi gundik pimpinan Yakuza musuh ayahnya yang menjebaknya kecanduan narkoba. Meski memiliki kehidupan yang pilu keluarga adalah segalanya dan melebihi dari apapun. Semua itu disadarinya bahwa ini bukanlah sebuah pilihan tetapi lebih kepada sebuah kehidupan yang harus dijalani, dan sifat keras dari ayahnya yang dikagumi sekaligus dimusuhi  membuat ia bisa bertahan melewatinya hingga bisa menuliskan sebuah memoar yang diterbitkan pertama kali tahun 2004 di Jepang ini.

Shoko Tendo yang kini hidup bersama putri semata wayangnya, ia berhasil memberikan sebuah kisah masa lalu dengan bahasa yang lugas dan tidak membosankan. beberapa tokoh pendukung yang kurang detail sebelumnya seolah tidak menjadi masalah besar di cerita ini, justru Yakuza moon secara keseluruhan berhasil menghipnotis saya untuk mengikuti dengan seksama bab demi bab, layaknya sebuah kehidupan manusia yang menyuguhkan bagian per bagian dengan kisah maupun tokoh yang berbeda namun masih memiliki benang merah yakni diri kita sendiri sebagai tokoh utamanya.

Buku ini tidak hanya menyuguhkan sebuah kehidupan keras dari sang penulis namun banyak hal menarik lainnya untuk dinikmati, karena bagaimanapun juga kehidupan yang keras tentunya juga akan meninggalkan kepedihan yang mendalam, diantaranya saat kehilangan sosok ibunya yang dulu selalu membuat masakan kesukannya saat sedih. Kisah cinta yang romantis pun diceritakan disini dan seolah menampar kita semua bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia percintaan “anything can happen”. Dari hal tersebut menggambarkan Shoko Tendo hanyalah seorang wanita yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dalam mengarungi kehidupan yang bukan kehidupannya , namun baginya semua itu terbayarkan selama bisa membahagiakan keluarganya. Baginya dan apapun alasannya keluarga adalah segalanya, bahkan saat dikhianati oleh adik semata wayangnya pun tidak membuatnya gentar atau berkurang  rasa cintanya sedikitpun.

Cover buku terbitan gagas media cukup membuat tertarik ketika melihatnya, bagaimana tidak cover bukunya memperlihatkan bagian belakang tubuh penulis dengan tato geisha yang cukup indah, gambar yang memiliki filosofi mengenai perjuangan seorang geisha dalam meraih derajat tertingginya  diharapkan  bisa menjadi motivasi dari si empunya tato untuk meraih mimpi. Meski beberapa bagian tubuhnya penuh dengan tato layaknya anggota Yakuza, Shoko Tendo justru bukan anggota dari kelompok gangster terbesar di Jepang hingga kini. Dan melalui tulisannya inilah mungkin ingin memberitahu kepada dunia bahwa tidak perlu menjadi seorang Yakuza untuk menghadapi permasalahan kehidupan yang pernah dialaminya.

Pada di akhir buku ini juga ada prolog yang menarik dari Manabu Miyakazi seorang penulis best seller tentang kritik sosial dan kehidupan Yakuza di Jepang dimana akan menambah pengetahuan tentang seputar dunia Yakuza yang sesungguhnya. buku ini merupakan sebuah pengakuan yang mengejutkan sekaligus mengharukan, dimana seorang wanita yang identik dengan sifatnya yang rapuh dan feminisme berhasil memenangkan pergulatan dalam hidupnya yang keras selama kurun waktu beberapa tahun. Memoar ini akan memberikan pengalaman yang berbeda namun terlihat nyata melalui alur tulisannya yang mengalir hingga akhir mengenai kehidupan Yakuza Jepang dari sudut pandang seorang yang benar-benar pernah menjalaninya.

Photo by marieclaire.com (Shoko Tendo and baby)

Max Havelaar

Ya, aku mau dibaca ! Aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan tanda-tanda jaman; oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang; oleh anggota-anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergejolak dalam kerajaan besar di seberang lautan, yang adalah sebagian dari kerajaan Belanda

Pada suatu ketika di sebuah losmen di Brussel Belgia dengan membawa berbagai dokumen diantaranya sebuah tulisan naskah sandiwara hingga salinan surat suratnya ketika menjabat di hindia belanda, seorang pria kelahiran Belanda menulis sebuah novel yang diakui sebagai karya sastra yang sangat penting bagi negaranya bahkan dunia dimana diselesaikannya dalam waktu satu bulan. Eduard Douwes Dekker atau lebih dikenal dengan nama samaran Multatuli merupakan sosok yang bisa dibilang bahwa tidak semua orang belanda itu penjajah, dimana ia menuliskan gugatan tajam terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang menimpa penduduk pribumi di hindia belanda yang diberi judul Max Havelaar.

Novel yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa belanda pada tahun 1860 ini memiliki judul terjemahan lengkapnya “Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda”. Dan pertama kalinya edisi bahasa Indonesia diterbitkan pada tahun 1972 yang diterjemahkan oleh HB Jassin salah satu tokoh yang namanya kini diabadikan Pusat Dokumentasi Sastra di Jakarta (PDS H.B Jassin). Bisa dibilang novel ini sebagai sebuah literatur penting bagi perjalanan bangsa Indonesia di masa silam bahkan beberapa dasawarsa kemudian diangkat menjadi film layar lebar tepatnya pada tahun 1976. Film tersebut sempat dilarang beredar pada masa orde baru berlangsung, namun tidak perlu berkecil hati karena di buku cetakan ketiganya seperti milik saya ini terdapat beberapa foto yang diambil dari film yang dibuat oleh antara pemerintah Belanda – Indonesia pada masa itu.

 Max Havelaar sendiri ditulis dalam bentuk roman, dimana buku ini seolah olah ditulis oleh tiga orang, padahal sebenarnya bisa dibilang ini hanyalah sebuah memoar dari seorang Multatuli selama di Hindia Belanda namun kelihaiannya dalam menampilkan sosok makelar kopi Amsterdam Batavus Droogstoppel, pemuda Jerman bernama Stern dan Havelaar secara bergantian yang kemudian merujuk pada sebuah akhir cerita yang dramatis pada jaman itu patut diacungi jempol. Selain ketiga sosok tadi ada kisah Saijah dan Adinda yang seolah menyeruak di tengah ketegangan cerita, sebuah romantisme pribumi pada masa penjajahan yang digambarkan secara indah tanpa harus merusak alur.

Di awal cerita akan disuguhi kehidupan seorang Droogstoppel (wakil kepentingan Belanda) yang menulis buku tentang kopi dengan mempergunakan sebuah bungkusan berisikan dokumen yang ada tulisannya entah sengaja atau tidak diberikan oleh Havelaar, dimana sosok materialis yang konservatif ini kemudian meminta bantuan kepada pemuda Jerman Ludwig Stern untuk membantunya menuliskan secara lengkap menjadi sebuah cerita yang diinginkannya dan pada akhirnya Havelaar atau bisa dikatakan Multatuli mengambil peranan mereka berdua pada bagian akhir untuk menuliskan sendiri klimaks cerita tersebut. Sebuah gambaran singkat akan didapatkan pembaca saat menilai sosok Max Havelaar melalui novel ini saat di awal cerita, seperti saat pemuda Jerman melihatnya sebagai sosok idealis sedangkan makelar kopi justru menganggapnya orang yang gagal yang hanya memakai syal kesana kemari dan menyebutnya Sjaalman. Dan saya sendiri justru menganggap Max Havelaar dari seluruh hidupnya penuh dengan penderitaan yang seolah olah tahu pada akhirnya dia tersingkirkan oleh sebuah sistem.

Praktek korupsi hingga pemerasan para pribumi atas nama penjajahan untuk dengan sistem Tanam Paksa dimana penduduk harus menyediakan tanah perkebunan kepada Gubernur Belanda dimana nantinya akan ditanam hasil bumi yang penting bagi bangsa eropa terutama kopi, teh hingga tebu. Namun upah tanam itu tidak pernah sampai ke tangan inlander atau bisa disebut penanam kopi, fakta tersebut disuguhkan oleh Multatuli melalui Max Havelaar cukup bagus. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Multatuli atau Douwes Dekker pernah menjadi asisten residen Lebak yang letaknya di sebelah selatan karesidenan Banten, jadi inti cerita sebenarnya banyak mengandung unsur otobiografis meski di penulis juga melakukan beberapa kebebasan salah satu di kisah Saijaah dan Adinda.

Menurut pandangan saya bila disesuaikan dengan jaman sekarang bisa dibilang bahwa sosok Havelaar mungkin identik dengan Whistleblower, bagaimana tidak begitu kerasnya dia memprotes sebuah sistem yang sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita yang didapatnya sebelum menjabat sebagai assisten residen. Dimana pada saat itu berita-berita baik dikirimkan Gubernur Jendral dari Hindia Belanda kepada parlemen yang tidak pernah menginjakkan kaki di wilayah tersebut diantaranya tentang sebuah kemakmuran penduduk jajahannya. Hal ini tentunya sangat mengusik batinnya saat menjadi asisten residen Lebak apalagi dengan melihat langsung penyiksaan hingga perampasan hak pribumi. Melalui sebuah perjuangannya yang lebih dari hanya memberikan keadilan bagi masyarakat jajahannya, serta berharap ada sebuah kesataraan hingga pada seutu waktu waktu kurang dari sebulan ia lantas menulis surat kepada atasannya di Hindia Belanda dan meminta agar semua orang yang terlibat praktek korupsi hingga pemerasan itu ditahan untuk kemudian diselidiki. Namun asisten residen yang baru itu telah masuk ke dalam sebuah sistem yang telah bertahan puluhan tahun dan itu memberikan keuntungan bagi Hindia Belanda meskipun sangat merugikan bagi penduduk pribumi hingga pada akhirnya bisa ditebak siapa yang bertahan dan siapa yang tersingkir oleh sebuah sistem.

Seorang Pramudya Ananta Toer pun pernah merujuk buku ini dalam The New York Times pada tahun 1999 sebagai “Buku yang membunuh kolonialisme“, Nah untuk membuktikannya silahkan anda baca buku yang menurut saya layak menyandang predikat Most Wanted.

*Whistleblower; Pengungkap aib (wikipedia)