Manusia mulai berkumpul menanti keindahan ciptaan sang khaliq, pedagang pisang epe bersiap mengais rejeki malam. Dan Jalanan Penghibur mulai sesak bercampur asap kendaraan dengan ragam kamera mulai berlomba menyapa saat mentari mulai terbenam – Senja di losari
Makassar menjadi tujuan Perjalanan kali ini, selama tiga hari menikmati pesona wisata yang ditawarkan oleh ibukota Sulawesi Selatan ini. Mulai dari Taman Nasional Bantimurung hingga menikmati matahari terbenam dari pantai losari yang kata teman saya adalah salah satu pemandangan sunset terbaik di Indonesia.
Hari pertama saat tiba di Makassar saya langsung menuju kota Maros untuk melepas rindu sejenak ke sanak saudara sebelum melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung esoknya, serta memperpendek jarak ke lokasi yang terkenal akan pemandangan pegunungan batu itu. Berkunjung ke sanak saudara saat berpergian adalah ibarat pepatah satu dayung dua pulau terlampaui, sembari bersilaturahmi juga bisa bisa merasakan suguhan kuliner khas daerah yang terkadang kita kesusahan bila mencarinya sendiri di daerah tersebut. Lidah pun ikut memanjakan diri sejenak dengan suguhan Songkolo yang dibuat dari ketan hitam lengkap dengan parutan kelapa berasa manis serta taburan sambal ikan teri, kemudian Barongko yang terbuat dari bahan dasar pisang serta Jalangkote yang mirip dengan kue pastel kalau di
Surabaya.
Esok pagi menuju Taman Nasional Bantimurung dengan memakan waktu kurang lebih 45 menit dari kota Maros tempat tinggal saudara yang saya kunjungi sebelumnya. Pagi hari selalu menjadi pilihan saya bila berkunjung ke tempat wisata yang potensi ramai pengunjung dengan harapan tempatnya masih sepi, sehingga lebih leluasa menikmati pemandangan pegunungan batu terbesar kedua di dunia ini dan air terjun yang menjadi daya tarik utama dari tempat ini, disini juga terdapat tempat penangkaran kupu kupu beserta dengan museum.
Untuk masuk ke lokasinya per orang akan dikenakan biaya sebesar 15ribu rupiah sedangkan untuk turis asing 50ribu rupiah. Dan apabila tidak membawa kamera saat masuk ke lokasi, jangan khawatir karena disini banyak ditemukan mat kodak (tukang foto) yang menawarkan jasa foto langsung jadi hanya dengan 20ribu/foto. Mat kodak ini nantinya akan
menemani selama perjalanan di dalam area wisata untuk memfoto kita sembari menjadi guide yang akan menjelaskan seluk beluk tentang Taman Nasional Bantimurung. Dan Bantimurung sendiri memiliki arti berarti Banting Kemurungan yang bisa diartikan jauhkan kemurungan bila berkunjung ke tempat ini seperti yang dijelaskan oleh guide saat menemani perjalanan.
Setelah puas menikmati keindahan Taman Nasional Bantimurung perjalanan berlanjut menuju kota Makassar dan langsung menuju Trans Studio Theme Park yang letaknya jadi satu dengan Trans Studio Mall di daerah Tanjung Bunga. Untuk masuk ke tempat ini saat itu dikenakan biaya sebesar 125ribu sedangkan untuk menikmati wahana khusus dikenakan biaya tambahan sebesar 50ribu, tiket Trans Studio ini bentuknya seperti kartu ATM yang memiliki banyak manfaat diantaranya bisa digunakan sebagai merchant card di tempat yang telah ditunjuk dengan mengisi ulang terlebih dahulu (semacam kartu debet). Dari berbagai wahana ada satu yang cukup berkesan menurut saya yakni wahana “Dunia Lain” dimana sesuai namanya terinspirasi dari salah satu acara televisi, jadi apabila berkunjung ke Trans Studio luangkan waktu sejenak untuk menikmati sensasi yang bikin bulu kuduk berdiri.
Hari itu bermalam di Makassar sambil menikmati kuliner malam seperti pisang epe sampai coto makassar, karena esok ingin menikmati keindahan pulau kecil yang letaknya tidak jauh dari kota Makassar, yakni Pulau Kayangan dan Samalona.
Pagi menjelang siang berangkat menuju pelabuhan kecil di dekat benteng, tawar menawar sebuah perahu sempat tidak berjalan lancara karena ketidakcocokan harga. Dan pada akhirnya kami setuju dengan harga sewa sebesar 300ribu dimana untuk sebuah perahu motor tadi bisa diisi sampai 10 orang. Untuk menuju Pulau kayangan hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit, dan jangan kaget akan disuguhi pemandangan laut yang penuh dengan sampah serta deretan kapal kapal berukuran raksasa yang lagi buang sauh. Yang menarik salah satu teman dari Makassar sempat berujar “kalau snorkling disini yang dilihat bungkus mie instan sampai kaleng/botol bekas minuman mas” dari dalam hati cuma bilang sampai
separah ini kondisi laut di pesisir makassar ini.
Merapat di Pulau Kayangan sejenak untuk menjemput teman dari Jakarta dan menurut penilaian saya pulau ini tidak terlalu istimewa, justru rasa penasaran timbul ingin segera mengetahui Pulau Samalona. Namun setelah 30 menit perjalanan rasa penasaran itu perlahan mulai terobati yang bercampur dengan rasa kecewa, ternyata Pulau Samalona tidak seindah yang saya bayangkan selama ini. Hamparan pasir putih di pulau ini pun seolah percuma karena banyaknya sampah berserakan, belum lagi banyak terumbu karang rusak yang semakin nampak karena kejernihan air laut di sekitar
pantainya.
Pulau yang memiliki luas daratan 0,067 Km2 ini dihuni oleh kurang lebih 82 jiwa berdasarkan data yang terpampang di sebuah papan di tempat bersandarnya perahu. Jadi bisa dibayangkan pulau ini cukup padat penduduk serta bangunan yang pastinya juga sampah, dimana seolah olah berlomba mengisi petak kosong di pulau ini. Akhirnya saya pun tidak ingin
berlama lama di pulau ini disamping panas mulai menyengat serta rasa kecewa yang cukup mendalam. Namun saya masih berkeyakinan bahwa Pulau Samalona itu sangatlah indah bila semua pihak yang terkait ikut menjaganya termasuk pengunjung.
Seolah tidak ingin berlama lama dengan rasa kecewa, chandra teman saya mengajak menikmati es pisang ijo khas Makassar sembari menanti senja di Pantau Losari. Cuaca cerah pun cukup mendukung untuk bisa menikmati momen terbenamnya matahari ini dengan mendokumentasikannya sembari duduk di tempat yang telah tersedia di sepanjang anjungan pantai. Dan setelah tiga kali berkunjung ke Makassar pada akhirnya perjalanan kali ini bisa menikmati terbenamnya matahari terbenam yang cantik dari Pantai Losari.







