Jogjaaaaa…. mengutip dari salah satu iklan yang sempat booming di layar kaca sempat terucap dengan penuh semangat tanpa rasa malu saat melintas di perempatan tugu kota jogja yang legendaris itu pada Sabtu (29/12) dini hari. Entah berapa kali berkunjung ke kota yang dikenal dengan sebutan kota gudeg dan sebuah hitungan itu takkan berpengaruh pada kecintaan akan kota ini. Sebuah kecintaan yang ditanamkan sejak kecil secara tidak sengaja oleh kedua orang tua saya, cerita ini saya dapatkan ketika ibu saya dulu pernah bercerita bahwa jogja merupakan kota pertama kali yang dikunjungi saat masih dalam gendongan beliau. Bahkan menurut bila liburan sekolah saat menginjak TK atau sekolah dasar tidak jarang diajak berlibur kemari, karena di kota ini juga bermukim keluarga besar Eyang. Entah karena hal itu atau bukan pada akhirnya bisa dibilang Jogja itu seperti kota tercinta setelah Surabaya.
Ini adalah kali kedua saya merayakan tahun baru di Jogja yang sebelumnya pergantian tahun 2009 dan seolah ingin berujar bahwa sebagian penduduk Jakarta sudah pindah ke Jogja. Bagaimana tidak beragam kendaraan dengan berbagai model kerap menemukan plat B di jalanan protokol diantara kemacetan, belum lagi dialek khas ibukota mudah ditemukan di jalanan legendaris Malioboro. Dan sekejap berharap keriuhan ini hanya cukup ada di sepanjang jalan ini tidak lebih, meski disadari juga bahwa kota ini merupakan salah satu kota tujuan wisata favorit di pulau Jawa untuk berlibur atau menikmati pergantian tahun.
Menikmati sebuah perjalanan bagi saya adalah menjauhi keriuhan apalagi hingga membuat macet jalan. Oleh karena itu perjalanan kali ini menuju daerah Prambanan lebih tepatnya di Candi Ratu Boko yang ditempuh kurang lebih 45 menit dari pusat kota lokasinya berdekatan dengan kawasan candi prambanan. Sore itu hujan deras mengguyur daerah tersebut, padahal hanya beberapa langkah kaki sudah memasuki kawasan candi. Dan seperti yang diketahui wilayah candi adalah tanah lapang yang luas sehingga jangan berharap ada tempat berteduh. Pilihan terdekat saat itu ada di pos tiket masuk candi jadi sambil berlari saya pun berteduh di tempat itu dan sempat ngobrol banyak dengan petugas yang lupa menanyakan namanya tapi justru memberikan banyak pengetahuan tentang candi ratu boko. Diantara obrolan tersebut mengenai sejarah ditemukan kawasan candi ini oleh warga negara berkebangsaan Belanda pada akhir abad 18 hingga dulunya sempat juga dikelola oleh swadaya masyarakat setempat sebelum pada akhirnya dikelola oleh Pemerintah. Hal lain yang membuat saya terkejut adalah mengenai nama Candi Ratu Boko, yang ternyata Ratu disini adalah Raja dan Boko berarti Bangau entah siapa yang dimaksud dari Raja Bangau tersebut masih menjadi pertanyaan hingga kini seperti yang dijelaskan oleh bapak petugas tiket masuk.
Di Kawasan candi ini juga jadi pilihan untuk melakukan foto pra wedding yg konon dibandrol seharga 500rb dan disarankan untuk melakukannya pada hari biasa untuk mendapatkan view yang bersih dari pengunjung, pilihan yang bagus mulai pagi hari saat masih berkabut hingga siang. Untuk jasa guide kurang lebih 75rb – 100rb per rombongan bila ingin mengetahui sejarah candi yang luasnya hampir 250.000m2. Pembicaraan kami tak jarang juga berhenti karena sang bapak harus memberikan payung kepada para pengunjung yang nekad masuk ke kawasan candi dalam kondisi hujan deras, di satu sisi saya berpikir bagaimana bisa menikmati keindahan sebuah relief atau candi saat hujan deras apalagi saat ingin mendokumentasikannya. Setelah sepi pengunjung yang ingin masuk ke candi baru si bapak bisa melanjutkan ceritanya seperti halnya sekarang sudah tersedia shuttle bus yang diberangkatkan dari candi prambanan menuju Candi Ratu Boko dengan mengeluarkan uang sebesar 45 ribu rupiah yang sudah termasuk tiket masuk kedua wisata tersebut, dan biaya ini lebih murah daripada mengunjungi kedua candi ini satu persatu. Karena tiket masuk ke Candi Ratu Boko sebesar 25rb sedangkan untuk memasuki Candi Prambanan dikenakan tiket sebesar 30rb.
Tak terasa pembicaraan berteman hujan tadi sudah memakan waktu hampir 2 jam dan bapak tadi sempat beberapa kali mempersilahkan untuk pindah ke kafe untuk berteduh lebih nyaman sambil memesan teh dan cemilan sembari menikmati pemandangan. Dan karena saya juga merasa haus pada akhirnya beranjak pos tersebut menuju kafe dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas obrolan yang menyenangkan dan luar biasa. Ketika memasuki kafe ini sudah membuat saya terkagum kagum karena disuguhi pemandangan gunung merapi yang terlihat samar karena hujan namun masih terlihat bentuk kemegahannya seolah tanpa cela, belum lagi candi prambanan terlihat cantik dari kejauhan yang bisa dilihat dari meja saya sambil menikmati hangatnya teh poci dan pisang goreng. Saat di ruangan ini akan disuguhi beberapa foto karya Darwis Triadi tentang keindahan candi Ratu Boko dari berbagai sisi yang seolah menjadi dekorasi ruangan ini.

Sebuah kekecewaan karena hampir 4 jam menunggu hujan reda namun juga dibalut sebuah optimisme, seperti yang kita tahu usai hujan deras terkadang nampak sebuah pelangi atau bisa jadi saat sore bisa memberikan merahnya senja yang eksotis. Dan keberuntungan itu datang juga yakni menikmati sunset terbaik dari berbagai tempat yang pernah saya kunjungi, dengan menikmati cahayanya yang memerah memasuki ruang ruang diantara candi seolah membuat ingin melambatkan waktu sebisa mungkin untuk menikmatinya lebih lama sambil terdiam hingga terbenamnya matahari.
Esok paginya saya menuju selatan jogja dengan menggunakan sepeda motor, lebih tepatnya ke daerah gunung kidul untuk menyusuri beberapa pantai. Sepeda Motor menjadi moda transportasi yang dipilih karena dari beberapa informasi mengatakan bahwa ada beberapa pantai tidak bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat serta kondisi jalanan yang tidak terlalu bagus.
Tujuan pertama adalah Pantai Sadeng yang terletak di paling timur yang menghabiskan waktu 3 jam dari kota Jogja dengan jalanan yang berliku penuh tikungan tajam hingga naik turun layaknya jalanan di kawasan pegunungan. Pantai Sadeng letaknya paling jauh dari Wonosari dimana kota ini semacam pintu masuk dari deretan pantai pantai eksotik yang berada di Gunung Kidul. Memilih pantai yang terjauh mungkin bisa dikatakan sebuah pilihan yang bijak dengan harapan saat pulang tidak berada di jalanan kawasan Gunung Kidul ini. Pantai yang lebih dekat dengan Wonosari adalah pantai Baron yang nantinya diharapkan bisa menutup perjalanan selama di Gunung Kidul.
Di pantai Sadeng atau lebih tepatnya TPI Sadeng dikenakan biaya masuk sebesar 3rb, tidak ada yang istimewa kecuali kehidupan nelayan dan aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan juga nampak sepi. Saat berada disini sempat mengalamai keterbingungan menentukan letak pantainya karena bibir pantai justru layak disebut dermaga beton sebagai sandar kapal. Namun nampak kejauhan sebenarnya ada deretan batu karang tersusun rapi yang, dan banyak digunakan untuk lokasi memancing.
Karena tidak mendapatkan hal yang menarik dan masih banyaknya pantai lain untuk segera dikunjungi maka perjalanan pun berlanjut kurang lebih 30 menit waktu yang dibutuhkan dari Pantai Sadeng menuju pantai Wediombo dengan membayar tiket masuk sebesar 3rb, pantainya tidak terlalu istimewa namun banyak ditemukan pohon rindang untuk bersembunyi dari panasnya matahari untuk beristirahat menikmati ombak. Setelah menghabiskan sarapan versi mini maka perjalanan berlanjut menuju ke Pantai Siung.Sebuah informasi tidak kalah penting yakni selama perjalanan tidak terlihat SPBU namun banyak kios bensin eceran sepanjang jalan baik dalam bentuk botol hingga jerigen.
Pantai Siung memiliki pemandangan tebing menjorok di sisi kanan dan kiri kemudian mengapit pasir pantai yang bersih, seolah mengingatkan akan sebuah pantai di Bali yang dikenal dengan nama dreamland. Tidak jauh berbeda dengan pantai sebelumnya untuk masuk dikenakan biaya sebesar 3rb yang memakan waktu kurang lebih 20 menit dari Pantai Wediombo. Saat disini saya mencoba naik ke sisi tebing bagian timur untuk melihat pemandangan pantai dari ketinggian kurang lebih 50 meter, namun tidak disarankan karena faktor keamanan. Tempatnya tidak memiliki pengaman sama sekali dan di atas tebing tersebut angin cukup kencang dengan sisi kiri kanan jalur jalan berupa blank langsung karang laut.
Ketika menuju pantai Siung perhatian sempat terusik ada sebuah tanda penunjuk arah yang terbuat dari triplek bekas dengan tulisan Pantai Jogan di sebelah kanan jalan. Informasi dari bapak tukang parkir menyebutkan bahwa tempat tersebut adalah pantai karang bukan pantai wisata layaknya Siung. Saat pulang pun langsung menuju lokasi pantai yang jalanan masuknya berupa jalan tanah namun diberi lapisan semen untuk jalur roda belum lagi jalurnya cukup dilalui satu mobil. Saat menuju pantai yang bisa dikategorikan “hidden beach” terbesit rasa kagum karena lokasi yang cukup tersembunyi serta masih dikelola secara swadaya oleh warga jadi tidak ada biaya retribusi. Rasa takjub pun timbul karena melihat sebuh pemandangan dengan air terjun yang langsung menuju ke laut dengan tumbuhan palem di sekitarnya yang masih alami. Tempatnya terbilang sepi dan boleh dibilang lebih cocok untuk dijadikan sebuah spot pemuas hobby fotografi, jadi setelah puas memanjakan mata kamera maka Pantai selanjutnya adalah Pok Tunggal.
Pantai yang bisa dibilang duplikat Pantai Kuta di Bali karena pemandangan deretan payung pantai yang warna warni belum lagi garis pasir pantai yang cukup luas seolah menambah kesan bahwa saya berada di pantai yang termasyur di pulai Bali. Menuju pantai ini juga jalanannya seperti di pantai Jogan namun bukan berarti kendaraan roda empat tidak bisa kemari. Tempat yang secara tidak sengaja juga karena tidak ada di catatan saya ataupun peta ini ditemukan di jalanan menuju Pantai Indaryati dari Pantai Siung. Penunjuk arahnya juga dari triplek bekas dengan dicat ala kadarnya dan tidak menemukan pos retribusi disini.
Setelah dari Pok Tunggal, deretan pantai mulai Indaryati bisa dinikmati hanya dengan membayar biaya restribusi sebesar 5rb sekali jalan hingga pantai Baron. Dan senja seolah menjadi penutup perjalanan panjang susur pantai Gunung Kidul yang sempat menjadi mimpi beberapa bulan sebelumnya. Menurut saya Gunung Kidul menyimpan banyak potensi wisata dengan beragam karakter pantai, bila berkunjung disarankan jangan hanya menengok satu pantai namun beberapa pantai sekaligus dengan manajemen waktu yang baik. Sebagai pendapat pribadi di akhir tulisan ini adalah biarkanlah pantai pantai di Gunung Kidul tetap seperti apa adanya karena ketakutan dan peran Pemerintah justru dibutuhkan mengedukasi warga maupun pengunjung untuk menjaga kelestarian lingkungan pantai hingga ekosistem laut daripada membangun infrastruktur pendukung yang pada akhirnya rusak karena minimnya edukasi tadi.